Selasa, 25 Februari 2014

“2004” semangat!!!



Gak kaget, waktu denger kabar tentang mass masuk akmil dan bulan Juli kemaren uda pangkat 3.
 
Salut buat mass yang uda punya keinginan itu dari SMA, sampai mama bela-belain ngeluarin uang ±17 juta biar mata mass bisa normal dan gak minus lagi.

Pengorbanan mass juga yang setiap sabtu-minggu harus pulang-pergi Jakarta-Surabaya dan ngerelain keinginan mass yang sempat niat kuliah, karena banyak teman-teman mass yang lanjutin kuliah.

Dan mama bilang:
“Kamu itu uda dicetak jadi TNI, yaudah jadi TNI. Gak usah ngelanjutin  kuliah!!”

Walaupun gak seperti yang dipengenin papa, kalau mass harus jadi polisi. Tapi mass uda nerusin profesi papa, meskipun beda di darat dan lautnya aja.

Mama pasti bangga dan selalu ada buat mass tuk gapai cita-cita mulia itu.

Apalagi papa dari surga akan tersenyum manis liat jagoannya jadi TNI AL yang baik dan profesional.

Aku disini juga akan selalu do’ain yang terbaik buat keberhasilan mass.. :)

Add caption
Tahun 2004, Allah uda takdirin aku dan mass bertemu, akrab, dan jadiin itu kenangan terindah yang tak pernah terlupakan.

Meskipun uda hampir 10 tahun gak ketemu, berharap aku dan mass masih bisa bertemu lagi di lain waktu.

Rinduku ni masih teruntuk mass, teman masa kecilku.. ^_^

Minggu, 17 Februari 2013

Arti Namaku Apa Yaaah??!

Penasaran sama arti nama yang diberikan orang tua, bisa coba cek di sini
http://www.melindahospital.com/modul/user/baby_name.php

Ini arti namaku Rizka Setia Anggraini
No
Nama
Jenis Kelamin
Asal Bahasa
Arti
Nama Serupa
1
Girl
Islami
Kebaikan yang diturunkan
Razqiyya
No
Nama
Jenis Kelamin
Asal Bahasa
Arti
Nama Serupa
1
Girl
Indonesia
nama istri Prabu Ekalawya alias Palgunadi. Dewi Anggraini mempunyai sifat setia, murah hati, baik budi, sabar dan sopan santun, menarik hati dan sangat berbakti terhadap suami

Kamis, 20 Desember 2012

Otak-atik Pendidikan Indonesia


            Pendidikan di Indonesia, sedikit banyak mengalami perubahan. Namun jikalau ada perubahan, dirasa kurang menunjukkan kemajuan. Apalagi sekarang, ada isu yang beredar jika mata pelajaran Bahasa Inggris akan dihapuskan untuk jenejang pendidikan sekolah Dasar (SD) kelas 1, 2, dan 3. Alasannya karena dirasa terlalu dini mengajarkan mata pelajaran Bahasa Inggris bagi mereka, serta mata pelajaran yang diajarkan pada anak SD kellas 1, 2, dan 3 sudah terlalu banyak, jadi agar mereka tiadak terbebani. Ada juga alasan yang menyebutkan agar mereka bisa fokus saja tehadap Bahasa Indonesia dan bahasa daerah.
            Jika ingin memfokuskan terhadap Bahasa Indonesia dan bahasa daerah itu baik, apalagi anak-anak jaman sekarang sangat kurang mengenal, mengerti, maupun memahami bahasa-bahasa daerah mereka sendiri. Mereka lebih banyak tertarik dan mempelajari bahasa-bahasa asing dibanding bahasa mereka sendiri. Namun caranya juga bukan dengan menghapuskan mata pelajaran Bahasa Inggris begitu saja.
            Di jenjang pendidikan Taman Kanak-kanak (TK) saja sudah banyak diajarkan Bahasa Inggris, lalu jika mereka masuk SD dan untuk sementara Bahasa Inggris ditiadakan. Kemudian muncul lagi mata pelajaran Bahasa Inggris di kelas 4 SD, bukankah hal seperti itu malah akan menghambat pembelajran mereka untuk Bahasa Inggris.
            Apalagi Bahasa Inggris adalah bahasa pertama di dunia, dengan begitu dirasa sangat penting di kehidupan ini. Contohnya saja dalam mencari pekerjaan, banyak yang membutuhkan/mengkriteriakan haus mempunyai kecakapan dalam Bahasa Inggris. Kemudian jika Bahasa Inggris tidak diajarkan sejak dini, khususnya pada anak SD kelas 1, 2, dan 3, lalu kapan lagi?.
            Rencana kebijakan untuk menghapus mata pelajaran Bahasa Inggris pada SD kelas 1, 2, dan 3 dirasa sangat kurang tepat. Karena lebih banyak dampak negatif dibanding dampak positif yang nantinya akan diterima. Jadi jika ingin membuat kebijakan/perubahan di dunia pendidikan haruslah dipikirkan matang-matang terlebih dahulu. Walaupun hal di atas tersebut masih sekedar isu, namun haus tetap dipikirkan dampak kedepan/dampak panjangnya bagi kehidupan nantinya. Jadi tak seenaknya mengotak-atik pendidikan begitu saja.

Pahlawan Devisa, Tak Ada Perlindungan Baginya


            Dulu Ruyati, Belum lama ini Darsem, dan sekarang Satinah. Lalu siapa lagi TKI yang bermasalah? Berapa banyak lagi TKI yang akan terkena hukuman pancung di Saudi Arabia?.
            Sungguh tragis nasib para TKI maupun TKW yang bekerja di luar negeri. Banyak dari mereka yang dianiaya oleh majikannya, hingga tidak dibayarkan gajinya. Padahal niatan mereka juga baik, untuk mencari nafkah bagi keluarganya. Dan untuk saat ini ada satu lagi TKI yang bekerja di Saudi Arabia yang terjerat qishas (hukuman pancung), yakni Satinah. Ia sedang menunggu keputusan hukuman pancung bagi dirinya, karena keluarganya masih bernegosiasi untuk membayar uang ganti rugi (diyat).
            Terkadang mendengar kata ”hukuman pancung” bagi kita orang Indonesia terlalu sadis, serasa tidak ada lagi kesempatan bagi sang pelaku/ tersangka untuk memperbaiki dirinya dan meminta ampunan atas kesalahan yang ia lakukan. Tapi inilah hukum yang berlaku di Saudi Arabia, bukan seperti yang ada di negara kita Indonesia. Walaupun kesalahan tersebut atau Satinah yang membunuh majikannya atas dasar pembelaan diri, namun tetap saja diangggap salah dan hukum pun tetap berlaku.
            Tapi yang amat disayangkan, kenapa tidak ada hukum di Indonesia yang bisa melindungi dan membentengi para TKI juga TKW yang bekerja di luar negeri. Meskipun banyak dari mereka yang  sukses, tapi masih banyak pula dari mereka yang bermasalah hingga pulang ke tanah air/daerah asalnya tanpa nyawa. Padahal mereka adalah penyumbang terbesar pemasukan devisa bagi negara, jadi tak salah jika mereka disebut sebagai pahlawan devisa.
            Jadi pemerintah Indonesia harusnya lebih tegas dan memberikan perhatian lebih kepada nasib para TKI juga TKW di luar negeri, khususnya untuk masalah pelindungan hukum yang kuat bagi mereka. Agar tak ada lagi di kemudian hari, kasus-kasus yang membelit para pahlawan devisa tersebut, mereka pun bisa bekerja dengan tenang dan hak asasi bagi mereka pun tetap ada dan terjaga.

Perubahan Maju Mundur


            Gresik, kabupaten yang pertumbuhannya cukup pesat. Diantaranya di bidang sarana dan prasarana, setelah perubahan Bupati yang baru ini banyak pembangunan yang dilakukan di sana-sini. Tempat-tempat umum seperti gedung kesenian/wahana ekpresi poesponegoro yang ada di Jl. Jaksa Agung salah satu bentuk nyatanya. Dulu sebelum dibangun gedung tersebut, lahannya hanya dipergunakan untuk lapangan, kemudian diubah lagi menjadi bendungan air. Tapi manfaatnya sangat kurang  dirasakan.
            Namun setelah dibangun gedung kesenian/WEP ,semuanya berubah. Pemandangannya pun berbeda, dulu yang hanya lahan kosong, sekarang berubah menjadi gedung dan taman yang banyak manfaatnya. Di gedung kesenian/WEP sering digunakan untuk kegiatan-kegiatan, seperti car free day yang diadakan setiap minggunya, wisuda, pentas seni, dan lain-lain. Kadang juga banyak digunakan untuk pemotretan, karena bentuk bangunannya yang modern dan bagus serta pemandangannya yang indah.
            Selain gedung kesenian/WEP, tempat umum/sarana dan prasarana yang baru di Gresik adalah tugu selamat datang di kota Gresik. Tugu tersebut dibangun di perbatasan kota Gresik dan Surabaya yang hingga saat ini belum selesei-selesei juga, masih dalam proses dan sudah beberapa kali direvisi. Namun tugu tersebut dirasa-rasa kurang memberikan manfaat. Memang kadang hanya digunakan untuk tempat nongkrong anak-anak muda  maupun pemotretan. Tapi bentuk dari tugu tersebut tidak ada bagus-bagusnya, pencahayaannya pun juga sangat kurang jika di malam hari, sehingga hanya membuang dengan percuma APBD kota Gresik.
            Seharusnya pemerintahan kota Gresik jika ingin membenahi maupun membangun tempat umum/sarana dan prasarana harus dipikirkan matang-matang terlebih dahulu. Seberapa besar manfaat yang akan diperoleh masyarakat nantinya dan anggaran yang akan dikeluarkan agar tidak percuma/sia-sia. Dan dari pada tidak memberi manfaat apa-apa untuk masyarakat, lebih baik APBD tersebut dialokasikan untuk bidang lain, seperti pendidkan, kesehatan, dan pemerataan masyarakat.